Krisis Finansial Asia Malah Memicu Semangat Sukanto Tanoto Untuk Diversifikasi Bisnis

Dalam sebuah negara adanya suatu krisis tentu bukan hal yang mustahil terjadi. Bahkan di Asia sempat terjadi krisis finansial yang membuat banyak perusahaan ciut nyalinya untuk memberikan aneka ragam produk baru di pasaran. Akan tetapi hal yang berbeda justru terjadi dan menjadi motto bagi Sukanto Tanoto

https://www.inside-rge.com/wp-content/uploads/2016/02/Sukanto-Tanoto-Anderson-Tanoto-Indonesia-Lunch-Dialogue-WEF-Davos-2016.jpg

Di tengah krisis finansial Asia yang dialami, Sukanto bukan ciut nyali malah tertarik untuk melakukan langkah diversifikasi bisnis. Ide ini memang ide yang brilian walaupun akan ada banyak hal yang perlu dikorbankan dan perlu ditingkatkan pada akhirnya. Menurut Sukanto, dengan upaya diversifikasi bisnis yang dilakukan, perusahaan akan mendapatkan pertolongan arus kas di tengah krisis yang terjadi sehingga sah – sah saja jika langkah ini dilakukan untuk berbagai perusahaan yang berada dibawah naungan RGE.

Diversifikasi Bisnis Di Tengah Krisis Finansial Asia Oleh Sukanto Tanoto

Sedikit bercerita dan flash back ke belakang, kita tengok bisnis Sukanto di sekitar tahun 1997 dan 1998 dimana pada masa itu terjadi suatu krisis. Sempat mengembangkan bisnisnya namun bisnis apapun di kala itu tersentuh dengan suatu krisis. Rontoknya nilai rupiah menjadikan konglomerat ini terjerat utang yang sangat besar dan harus menjadi pasian Badan Penyehatan Perbankan Nasional. Hal ini karena ketika krisis terjadi mulai menyerang Indonesia di masa tersebut, RGE malah tetap mengambil upaya pendekatan untuk melakukan investasi.

Jadi di masa itu seperti jatuh tertimpa tangga, lagi – lagi pil pahit perlu di telan oleh Sukanto Tanoto hingga kemudian di tahun 1999 Sukanto harus menutup PT Inti Indorayon Utama yang merupakan perusahaan bubur kertas. Selain karena masalah keuangan masyarakat juga menuding PT ini memiliki limbah yang mencemari Danau Toba. Ini juga yang menjadi masalah pelik di waktu tersebut.

Akan tetapi bukan Sukanto kalau tidak bisa bangkit. Darisana Sukanto memetik sebuah pelajaran yang berharga. Sukanto mulai mengubah strateginya yaitu dengan membangun suatu komunitas sembari melakukan ekspansi. Ia juga kemudian membuka hutan tanaman industri. Dengan langkah jitu ini juga terbukti bahwa ia berhasil pada industri pulp and paper dan telah menjadi produsen kertas paling besar di dunia yang bernama Paper One. Paper One ini salah satu produk yang beredar di 51 negara.

Walau berbagai kendala senantiasa menghadang dan menghadang akan tetapi sayap – sayap bisnis RGE tak pernah pudar. Bahkan senantiasa berkembang dan terus mengalami perkembangan sampai grup ini kemudian merambah ke bisnis energi, keuangan dan bisnis properti. Kemudian bisnis kertasnya meluas ke berbagai negara baik melalui kerjasama atau langkah akuisisi. Komitmen untuk terus berkontribusi dalam pembangunan secara berkelanjutan yang kemudian menjadi alasan mengapa RGE terus menerus mampu mengembangkan sayap bisnisnya tersebut.

Menurut informasi dari Joseph Oetomo sendiri yang merupakan seorang chairman RGE, pihaknya senantiasa memiliki pedoman pada visi pendiri perusahaan ini untuk bisa bertahan dalam menghadapi berbagai macam kondisi. Visinya dalam setiap bisnis yang dilakukan adalah memberikan kebaikan bagi masyarakat, negeri, iklim dan pastinya perusahaan. Termasuk juga kaitannya dengan langkah pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan dan ramah lingkungan yang dilakukan setiap basic dari perusahaan RGE Group. Selain itu cara kerja yang turut diterapkan oleh Sukanto adalah mendorong perusahaan untuk terus menerus mendapatkan sentuhan perkembangan. Semua proses kerja pada akhirnya dilandasi oleh semangat can do attitude atau melakukan orientasi pada hasil yang berkualitas. Tentunya ini yang menjadi sebuah hal terbaik dilakukan dalam setiap langkah oleh perusahaan dibawah naungan RGE.

Post a Comment

0 Comments